Kesehatan Wedding Tips

Pre Wedding Syndrome

wedding semarang

Detik-detik menjelang pernikahan adalah proses yang paling menegangkan dalam hidup. Anda akan menghadapi hidup baru, kehidupan yang berbeda sama sekali dengan yang Anda jalani saat ini. Rasa takut pasti ada. Keraguan juga terkadang hadir.

Hal ini dinamakan Sindrom pra nikah atau Pre wedding Syndrome (PWS). Yaitu sebuah keadaan dan tekanan psikologis yang dialami pasangan yang akan menikah. Fase di mana Anda akan merasakan keraguan terhadap pasangan, sampai mengalami “percekcokan” dalam keluarga. Semua yang terjadi dalam fase ini membuat Anda berpikir ulang, “Harus saya meneruskan pernikahan ini?”.

Menariknya, hampir semua pasangan yang akan menikah biasanya mengalami pre wedding syndrome. Sekilas masalah ini sepele, namun , jika hal ini dibiarkan bisa berdampak besar kepada hubungan pasangan & kebahagiaan pernikahan.

Pre Wedding sindrom bisa terjadi karena kelelahan fisik (physical fatigue) dan kelelahan mental (mental fatigue).

Kelelahan Fisik

Umumnya terjadi karena tekanan berat perencanaan pernikahan. stres ini muncul sejak lamaran, mencari venue yang tepat, persiapan mahar, menulis undangan pernikahan, persiapan akad, diskusi antara dua keluarga tentang rencana pernikahan, tuntutan orang tua, perencanaan anggaran pernikahan, rencana bulan madu, rekuestin cuti kerja kepada pimpinan Anda, dan lain sebagainya.

Kelelahan mental

Stres ini muncul karena kekhawatiran – kekhawatiran terhadap pasangan dan mulai mempertanyakan diri sendiri, sudah benarkah keputusan yang diambil?

Biasanya dalam periode menjelang pernikahan ada banyak hal yang membuat calon pengantin menjadi stres, di antaranya tentang biaya, keputusan yang diambil, ekspektasi kepada pasangan setelah menikah, perubahan yang akan terjadi setelah menikah, tanggung jawab yang akan di emban.

Namun demikian, mental fatigue juga bisa diakibatkan oleh physical fatigue. Biasanya yang menjadi sumber stres menjelang hari H adalah perencanaan resepsi pernikahan yang ingin semuanya berjalan sempurna, mengingat pernikahan tak hanya melibatkan Anda dan pasangan saja melainkan juga dua keluarga, kolega, dan masyarakat sekitar atau budaya setempat. Tak jarang ini membawa tekanan sendiri.

Jika Anda pasangan dengan banyak perbedaan semisal beda agama, suka, atau kewarganegaraan, tingkat mental fatigue ini jauh lebih tinggi.

sumber : www.wowheboh.org