Pernikahan Beda Negara

wedding semarang

Cinta memang tidak mengenal ruang, waktu dan jarak. Dua orang yang berbeda bangsa dan negara bisa saja menjalin tali kasih bahkan pernikahan. Pernikahan beda negara memang tengah marak di kalangan masyarakat. Apalagi, era yang semakin terbuka ini makin memudahkan seseorang untuk melakukan hal tersebut. Pertukaran pelajar, beasiswa keluar negeri, serta perdagangan bebas, sampai maraknya dunia Facebook, twitter, dan jejaring sosial lainnya, memudahkan pertemuan atau komunikasi individu antarnegara.

Namun, menjalin cinta beda budaya dan juga negara bukan saja membutuhkan pemahaman personal satu sama lain, tapi juga perbedaan kultur dari negara pasangan. Tidak sedikit orang yang membayangkan bahwa pernikahan beda negara atau menikah dengan orang asing adalah suatu hal yang sangat pelik. Pasalnya, berbagai persoalan kerap mengiringinya. Sebutlah dari mulai hubungan jarak jauh, ketidaksetujuan orang tua, tahap membina rumah tangga, pengasuhan anak dan tanggung jawab keluarga. Belum lagi perbedaan bahasa, budaya, gaya hidup, dan pola pikir yang jelas sekali.

Wajar memang bila cinta tak mengenal batas-batas geografis. Namun, pada kenyataannya, tidaklah mudah bagi warga negara Indonesia memiliki pasangan berbeda bangsa.

Masalah-masalah yang kerap mencuat pada pasangan beda negara karena ketidaktahuan dan ketidaksiapan pemahaman tentang budaya dan etika yang berlaku. Atau bisa jadi perbedaan dua pribadi yang berlainan akar budaya. Akibatnya, bagi mereka yang kurang siap mental dan batin, ditambah harapannya yang kadang tak sesuai dengan kenyataan, tanpa sadar telah membuat mereka tertekan dan berujung pada berbagai masalah.

Seperti ditulis dalam buku Perkawinan Antarbangsa: Love and Shock! karya Hartati Papafragos (Penerbit Esensi, 2008), gegar budaya alias culture shock adalah hal yang dialami oleh mereka yang menikah dengan orang asing, kemudian menetap di negara asal pasangannya. Culture shock memang sulit dihindari dalam sebuah hubungan beda bangsa, tetapi tak berarti pula culture shock harus ditakuti.

Penelitian yang dilakukan Abigail tahun 2009 terhadap pasangan Inggris (suami) dan Indonesia (istri), menyebutkan bahwa kendala yang dihadapi umumnya kendala bahasa, perbedaan nilai dan perbedaan pola perilaku kultural. Dua hal terakhir ini sangat penting terutama bagi masyarakat Indonesia.

Di Indonesia pernikahan bukanlah hal yang mudah seperti yang dilakukan di negara-negara lain. Pernikahan bukan hanya penyatuan antara satu individu dengan individu yang lain. Namun, pernikahan merupakan penyatuan antara dua individu yang berbeda beserta seluruh keluarga besar dari pasangan tersebut. Persiapan pernikahan yang sesama budaya saja sudah sangat menyulitkan, apalagi persiapan pernikahan dengan beda budaya bahkan beda negara yang sangat sulit menyatukan pendapat.

Kebudayaan dipengaruhi juga oleh luas wilayahnya. Semakin luas wilayah kehidupan budaya tertentu, maka semakin luas pula ruang yang diperlukan oleh mereka. Itu berarti bahwa mereka semakin independen dan tak ingin dicampuri urusannya. Konflik budaya memungkinkan munculnya masalah yang lebih besar bagi kedua pihak yang bersalah paham.

Guna mengatasinya, bersikaplah sebagai seorang yang berminat mengamati dan belajar adat istiadat setempat, mendengar nasihat atau petunjuk dari berbagai sumber serta tidak malu untuk bertanya mengenai suatu hal yang tidak dimengerti.

Sepertinya akan lebih rumit lagi jika urusan nikah ini ditarik lebih jauh kemasalah imigrasi, perjanjian pranikah, KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), tantangan dari negara (kebijakan, aturan hukum dan perundang-undangan), masyarakat maupun dari dalam keluarga sendiri. Yang jelas, bagi yang berminat menikah lintas negara, bersiaplah untuk memupuk kesabaran dan kesungguhan yang ekstra.

Namun, bagi psikolog Dra. Fadhilah Suralaga, M.Si (53), nikah beda negara tergolong gampang-gampang susah. Gampang jika para pelakunya bisa mempersepsikannya secara tepat dan sederhana. Sementara dapat dipandang rumit bila sejak awal orang yang menjalaninya tidak sepenuh hati atau benar-benar awam.

Dari segi perkembangan dewasa awal, umumnya seseorang memiliki daya tarik dan menentukan untuk menikahi seseorang karena adanya kesamaan dengan orang tersebut (validitas konsentual). Hal ini dilakukan karena seseorang lebih mudah mengontrol, memprediksi dan melakukan coping yang baik pada saat terjadi konflik dalam berumah tangga serta akan timbulnya kesejahteraan psikologis (psychological well being) dalam berumah tangga, dan tentunya pasangan suami istri yang mencapai psychological well being akan langgeng dalam menjalani lika-liku kehidupan pernikahannya.

Masalah yang dihadapi pasangan kawin campur pada dasarnya sama saja dengan pasangan sebangsa, yang penting bagaimana menyikapi dan menyiasati perbedaan tersebut. Sehingga bukannya menciptakan konflik, akan tetapi menciptakan hubungan yang sinergi.

“Nikah beda negara sebetulnya nggak jauh beda dengan orang yang menikah antar suku, daerah atau provinsi. Coba lihat, tipologi masyarakat Indonesia bermacam-macam, kan. Ada Jawa, Sunda, Madura, Sumatera, Kalimantan, Aceh, Ambon, dan lainnya. Semuanya memiliki karakter, gaya dan tradisi sendiri-sendiri, yang belum tentu sama setiap daerah. Jadi, menurut saya, itu dikembalikan kepada individu-individu yang akan menjalaninya,” cetus Fadhilah Suralaga.

Keberhasilan pasangan campuran membutuhkan pengetahuan dan penghormatan terhadap masing-masing nilai dan adat istiadat. Tapi, jangan lupa kita juga harus bangga pada nilai dan adat-istiadat kita sendiri.

“Cinta saja tidak cukup bagi pernikahan campuran yang beda agama. Harus ada pengertian dan mau berkorban,” ucap Humas Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Matius Samiadji mengingatkan. Tidak saling pengertian dan enggan berkorban menyebabkan pernikahan campuran berakhir di pengadilan.

sumber: www.wowheboh.org