Kerikil Pengganggu Dalam Berumah Tangga

kerikil pengganggu

Menurut psikolog Kasandra Putranto, perbedaan karakter, ketidakcocokan keluarga, perbedaan harapan ataupun tekanan masyarakat yang terjadi diantara pasangan bisa menjadi penyebab hubungan pertunangan gonjang-ganjing, bahkan kandas. “Tekanan mental dan emosional menjelang pernikahan memang tak dipungkiri menambah intensitas konflik yang berpotensi menimbulkan perpecahan sebelum atau setelah menikah,” jelas Kasandra.

Pada dasarnya, tiap orang akan mengalami perubahan dalam dirinya sebagai bagian dari proses tumbuh kembang. Hubungan yang selaras dapat dipupuk dengan proses pengenalan kepribadian diri dan pasangan dengan mengukur kadar kecocokan pada masa penjajakan yang diikuti dengan sikap kompromi. Apabila saat berpacaran sudah banyak tidak cocoknya, lebih baik hubungan diakhiri sebelum melangkah lebih jauh.

“Jadi, bukan hanya sekadar mengukur kecocokan, namun kesiapan untuk menerima kelebihan dan kekurangan pasangan, termasuk menerima kehadiran keluarga besar masing-masing pasangan,” kata Kasandra.

Dalam kasus hubungan jarak jauh, alasan yang paling utama adalah masalah kuantitas waktu hubungan yang tidak diiringi dengan kualitas hubungan serta pribadi yang kuat, sehingga rentan terhadap segala bentuk godaan. Tantangan dalam hubungan menjadi kian berlipat ketika sepasang kekasih harus terpisah jarak dan waktu. Jarang bertemu, jarang komunikasi, tidak terlalu mengenal pribadi pasangan, ketidakpercayaan, perbedaan gaya hidup, serta masalah karakter menambah ‘bumbu-bumbu’ konflik.

Sayangnya, sering kali seseorang punya harapan yang tidak rasional. Harapan tinggi ini terkadang melampaui kenyataan sehingga timbul harapan yang salah pada kualitas hubungan yang mengaburkan ketidakcocokan yang sudah ada sejak awal.

“Banyak orang beranggapan bahwa pasangannya akan berubah demi dia, atau akan berubah menjadi seperti yang dia mau. Padahal, dalam kenyataannya hal ini tidak mungkin terjadi. Justru mereka harus menciptakan hubungan yang berkualitas dengan komunikasi yang intens, diiringi dengan rasa percaya terhadap pasangan, mampu menerima gaya hidup yang berbeda dan terakhir menyesuaikan karakter antara diri dan pasangan,” jelas Kasandra.

oleh : WORO HARTARI TRIANTI (majalah femina)