Menguras Kantong Demi Jadi Bridesmaid

Bridesmaid (ilustrasi: Pixabay.com)

Weddingavenuemagazine.com – Memasuki usia 20 tahun, tentu kamu merasakan masa-masa di mana akan menerima banyak undangan pernikahan dari teman-teman. Nah, sesuai tradisi di Indonesia, kamu harus bersiap mengeluarkan amplop ketika mendatangi resepsi pernikahan. Apalagi bila sahabatmu yang menikah, pasti perlu budget yang lebih besar.

Terlebih sekarang ini, sudah jamannya “bridesmaid”, istilah trendi masa kini untuk menyebut “pagar ayu”. Biasanya, bridesmaid akan berseragam dan mengawal sang pengantin perempuan selama acara pesta pernikahan berlangsung.

Mengapa sih bridesmaid harus berseragam?

Sebetulnya, tradisi bridesmaid ini bukan tradisi asli Indonesia, melainkan dari tradisi Romawi kuno. Sejarahnya adalah para bridesmaid ini berada di sekitar pengantin dengan baju seragam yang serupa untuk mengelabui roh-roh jahat yang mengganggu saat janji pernikahan diucapkan.

Dengan pakaian bridesmaid yang serupa dengan pengantin, roh jahat akan bingung dan pengantin pun bisa mengucapkan janji pernikahan sampai selesai. Jadi, pada awal sejarahnya, kehadiran bridesmaid berseragam bukan untuk pengiring atau pun pendukung pengantin. Melainkan erat kaitannya dengan kepercayaan tradisi kuno. Kepercayaan ini akhirnya mulai luntur pada zaman Victoria, tetapi tradisi bridesmaid berseragam masih tetap dilakukan hingga masa kini.

Repotnya menjadi Bridesmaid

Peliknya soal biaya dan repotnya menjadi bridesmaid

Mengadopsi tradisi yang diceritakan di atas, biasanya pengantin memberi bridesmaid baju seragam atau dalam bentuk kain yang harus dijahit. Sayangnya, ongkos jahit biasanya tidak murah hingga mencapai ratusan ribu rupiah. Belum lagi kado yang harus dipersiapakan, lalu teman-teman satu geng membuat bridal shower yang mengharuskan kita patungan.

Peliknya menjadi bridemaid pun dirasakan Dwi. Ia mengaku satu kali menggelar bridal shower harus mengeluarkan ratusan ribu untuk biaya urunan. Selain itu menjahit pakaian paling murah berkisar Rp300 ribu. “Jahit baju seragam, pertama kalau dikasih bahannya ngepas kita nambahin bahan lagi. Kita juga cari penjahit ga yang asal-asalan ya karena ingin bagus sesuai yang kita mau, jadi mau ga mau ongkos jahitnya mahal. Trus kalau bahannya kurang bagus sayang buat ongkos ngejahitnya. Kadang baju bridesmaid juga hanya dipakai sekali. Jadi lebih baik pengeluaran yang di atas untuk membeli hadiah buat si pengantin aja diitung-itung bisa deh dapet mesin cuci hehehehe. Jadi pengeluaran aku bisa sampe Rp500 ribuan,” ujarnya kepada redaksi Vemale.com

Masuk usia akhir kepala dua, dan mulai kebanjiran menjadi bridesmaid pun dialami oleh Dina. Setiap kali jadi bridesmaid ia paling banyak keluar uang kurang lebih Rp1,5 juta.

“Sejuta buat jahit dan make up saja. Belum termasuk kado. Bridal shower juga ikut tapi tergantung tempatnya. Kalau ada minimun order ya udah seminimum order itu. Kalau ngga ada, ya biasa aja. Kayak pesen makanan tapi si calon pengantin didandanin,” ujar perempuan berusia 29 tahun ini.

Walau begitu, Dina merasa senang dengan acara bridal shower dan membuat baju untuk temannya karena menurutnya harga pertemanan itu yang priceless.

Sama halnya dengan perempuan bernama Rahma, sebenernya ia merasa senang ikut berpartisipasi dalam acara sakral temannya. Namun saat diberi seragam untuk bridesmaid, ia bukan hanya pusing soal uang, tetapi model pakaiannya juga. “Aku merasa senang bisa berpartisipasi dalam acara sakral mereka, tapi yang terkadang suka menjadi sedikit beban itu pada saat kita mesti jahit bahan yg mereka kasih ke kita. Kita perlu memikirkan modelnya kadang-kadang suka sampe galau mikirinnya. Terus dikasih bahan seadanya mau gak mau kalo bahannya kurang kita mesti nambah beli lagi bahan butuh budget lagi kan belum lagi budget untuk bayar jahitnya nanti. Kira-kira aku habis sampai Rp500 ribuan untuk jahit seragam bridesmaid,” paparnya.

Serupa dengan kisah di atas, Lala, 25 tahun menceritakan ‘derita’ mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk menjadi seorang bridesmaid. Ia menjelaskan sekali makan saat bridal showernya kira-kira Rp150 ribu, patungan untuk dekorasi dan perlengkapan bridal satu orang Rp.100 ribu, jahit baju Rp.300 ribu. Lalu patungan buat piala Rp.60 ribu. Jika dihitung-hitung satu orang mengeluarkan Rp560 ribuan.

“Sementara jumlah geng ada 7 orang, dan tahun kemarin yang nikah itu ada 3 orang setiap bulannya. Jadi bisa kurang lebih 2 jutaan setahun kemarin itu. Pokoknya sekali bridal dan jahit bridesmaid dan bikin piala itu Rp550ribuan. Belum kado pribadi kita saat dia nikah. Sekitar 250 ribuan. Namanya temen deket, pasti nyarinya ya yang gak terlalu murah tapi gak terlalu mahal juga,” paparnya.

Budget besar untuk bridesmaid juga dialami Famega, untuk sekali resepsi pernikahan yang ia bisa mengeluarkan Rp. 5 juta. “Lima juta itu kalau temanku nikah di luar kota, seperti kemarin resepsinya diadaka di Bali, tiket pesawat, jahit baju sampai Rp. 1,5 juta, belum sama aksesoris, high heels yang pas untuk pakaiannya. Lima juta itu belum sama kado untuk pengantin. Nah, nanti ada lagi resepsi yang diadakan di Balikpapan,” ujar Famega. Senada juga dengan pengalaman sahabat Vemale bernama Tsabina, “Apalagi kalau ke luar kota, bisa kena Rp1,3 juta buat baju, kondangan, hotel dan urunan bensin. Kadang suka maksain misalnya budget harusnya sekian malah bengkak.” Ia akhirnya harus memilih menjahitkan baju sederhana saja atau malah tidak menjahitkan baju sama sekali.

Mia yang kini berusia 30 tahun juga, dulunya sering jadi bridesmaid. Menjahitkan baju budgetnya 300-400ribuan, tergantung model. Budget tersebut, menurutnya belum termasuk kain bawahan senada, sepatu warna senada dan aksesorisnya. Hal ini diamini oleh sahabat Vemale yang lain bernama Tari. “Sometimes kalo ngerasa heels-nya ga ada yg matching sama warna seragam. Lebih ke menghargai teman sih, karena biar bagaimanapun si bride pasti mau temennya cantik dihari spesialnya, begitupun bridesmaidnya,” paparnya.

Berbeda dengan cerita-cerita di atas, Widya (27 tahun) menceritakan pengalamannya menjadi bridesmaid di pernikahan sahabatnya, “Waktu itu sahabatku menikah dan dia kasih set kain atasan dan bawahan. Pesannya, terserah mau dijahitkan atau nggak. Aku pun nggak dikasih bridesmaid attire guide. Ternyata dia memang pengen bener-bener ngasih kain itu sebagai tanda persahabatan kami.”

Seragam bridesmaid tidak cukup hanya satu

“Pernah ada kerabat dekatnya yang mewajibkan bridesmaidnya jahitin baju kembar untuk 3 outfit: bridal shower, midodareni dan pesta,” ujar Mia. Pernyataan serupa juga diungkapkan oleh Famega, “Belum lagi ada temen yang kasih seragam lebih dari satu, kaya seragam untuk ngunduh mantu dan seragam lamaran gitu. Jadi biaya jahit bisa nambah lagi. Total 2,5 jutaan (untuk jahit ketiganya). ”

Nah solusi dari semua beban bridesmaids, menurut Tsabina dan Tari ialah sebaiknya teman yang akan menikah memberikan baju yang langsung jadi atau samakan warna saja. Jadi tak perlu memberikan bahan yang harus dijahit lagi. Para bridesmaid bisa memilih baju yang sesuai keinginan dan nantinya bisa dipakai lagi di acara lain.

Menurut Mia dan Tari, bridesmaid sebenarnya tidak perlu seragam. “Cukup dengan dress simpel dengan flat shoes,” ujar Mia. Sementara Tari berpendapat, “Sekarang sih request aja kalo ngasih mending baju jadi, Menurut saya itu lebih masuk akal ketimbang bahan.” Para bridesmaid pun bisa memilih bahan dan model yang sesuai dengan keinginannya.

Problematika wedding kekinian ternyata bukan hanya dirasakan oleh para pengantin, tetapi juga bridesmaidnya. Kebayang dong pusingnya jadi Jane Nichols dalam film “27 Dresses” yang menjadi bridesmaid dalam 27 pernikahan?

sumber : www.vemale.com