Apa Yang Membuat Anda Yakin Untuk Menikah?

wedding semarang

Persiapan pernikahan memang bukan hal yang sepele, banyak hal yang menjadi pemikiran kita, dari menyiapkan undangan, baju pengantin, foto pernikahan, mas kaw in pernikahan, dan yang paling penting, benarkah dia pilihan yang tepat bagi kita ?

Persiapan pernikahan memang bukan hal yang sepele, banyak hal yang menjadi pemikiran kita, dari menyiapkan undangan, baju pengantin, foto pernikahan, mas kawin pernikahan, dan yang paling penting, benarkah dia pilihan yang tepat bagi kita ? Perlu diingat, dalam setiap pernikahan, kita selalu berharap untuk menjalaninya sekali dalam seumur hidup, kecuali anda berpikir sebaliknya. Hal inilah yang membuat beberapa calon pasangan membuat ragu menuju jenjang pernikahannya.

Melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan merupakan salah satu hal membutuhkan komitmen besar. Dalam hal ini, Anda tak sekadar mengandalkan cinta saja, melainkan komitmen besar untuk menjalani seumur hidup dengan pasangan.

Sebuah studi menanyakan pada 464 pasangan pengantin baru, apakah mereka yakin atau tidak pada pernikahannya. Pertanyaan tersebut kembali ditanyakan pada pasangan yang sama, empat tahun kemudian. Hasilnya, wanita yang sejak awal mempertanyakan keputusannya lebih banyak yang bercerai daripada mereka yang yakin akan pernikahannya.

Berapa lama masa pacaran Anda dengan kekasih? Jika Anda memang berkomitmen ingin melanjutkan hubungan yang lebih serius, Anda dan si dia sebaiknya mulai mempertimbangkan pilihan untuk menikah. Lantas apakah Anda sudah yakin untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan?

Keyakinan itu harus diciptakan bukan ditunggu, semua tergantung mindset kita sendiri, bukan cuma menunggu dia datang. Tapi keyakinan harus berasal dari dasar hati, bukan diyakin – yakinkan alias keyakinan yang dipaksakan. Keyakinan itu tumbuh dari dasar hati.

Tujuan Menjalin Hubungan Kekasih

Ketika semua teman Anda mulai menikah, selain merasa turut berbahagia untuk pasangan tersebut, akan mudah bagi Anda untuk merasa iri. Jika pasangan Anda belum juga melamar, godaan tersebut akan menyebabkan timbulnya masalah. Belum lagi pertanyaan umum yang dilontarkan kerabat kepada kita tatkala kita menghadiri pernikahan atau ketika ketika persiapan pernikahan dari sepupu atau saudara kita, “Kapan menyusul nak?”

Bisa jadi Anda tipikal pasangan yang telah melalui pacaran hingan lima atau delapan tahun bahkan lebih. Pertanyakan tujuan Anda pacaran, untuk apa pacaran selama itu jika bukan untuk menuju jenjang pernikahan ?

Tetapi meletakkan masalah ke tangan Anda sendiri adalah hal berbahaya. Tidak ada gunanya menikah jika pasangan Anda tidak yakin atau hubungan yang Anda bina itu tidak baik.

Atau bisa saja pertanyaannya dibalik, “SEBENARNYA APA YANG MEMBUAT ANDA TIDAK YAKIN MENIKAH DENGAN ORANG YANG TELAH MEMBUAT ANDA BERSEDIA MENERIMA DIA SEBAGAI KEKASIH?”

Menikah bukan akhir cerita membahagiakan dari perjalanan hubungan cinta Anda dan dia. Justru, setelah menikah, Anda dan dia akan menjalani kehidupan baru yang perlu dijalani bersama dengan kesiapan dan keyakinan dari keduanya. Ingat, menikah bukanlah perlombaan. Ujian sebenarnya dari sebuah hubungan adalah bukan seberapa cepat orang menikah tapi berapa lama mereka dapat mengarungi bahtera rumah tangga setelah itu.

Finansial, pemikiran yang membuat keraguan

Selain pendamping hidup, menikahinya juga artinya Anda harus siap menjalani perubahan. Bisa jadi Anda harus mengurangi kumpul santai bersama teman, tak bisa sesuka hati menghabiskan gaji untuk belanja, atau pulang larut karena menghadiri pesta. Sebelum memutuskan atau menerima ajakan menikah, ajukan dulu sejumlah pertanyaan ini kepada diri sendiri, “Siapkah Anda menjalani semua hal ini ?”

Seringkali pertimbangan utama ketika memutuskan untuk menikah adalah kesiapan ekonomi. Karier yang mapan, dan keuangan yang stabil. Jika Anda seperti ini, jangan terburu-buru menikah karena yang paling penting adalah mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk dalam pernikahan. Seperti misalnya masalah keuangan yang menurun, tampilan pasangan yang berubah biasa saja, rasa bosan, dll.

Keuangan akan menjadi sumber pertengkaran saat menikah nanti. Tak ada salahnya untuk berdiskusi dengan calon Anda mengenai hal ini. Buatlah kesepakatan bagaimana cara kalian mengelola pendapatan nantinya. Dengan hal ini kemungkinan Anda dan pasangan bersitegang karena uang menjadi kecil.

Dalam bukunya, The Money Goddess, Paula Hawkins menyarankan pasangan untuk bicara mengenai keuangan sebelum menikah. Mulai dari siapa yang akan menanggung biaya hidup, seberapa besar utangnya, kisaran gaji, hingga target finansial ke depan.

Jika Anda membangun kehidupan dengan seseorang, Anda hanya dapat berhasil melakukannya jika Anda memiliki tujuan yang sama. Jika Anda menikah namun baru mengetahui bahwa pasangan Anda tidak setuju pada suatu pemikiran Anda yang mendasar bisa menjadi bencana dalam kehidupan pernikahan. Jika Anda belum membahas isu-isu besar seperti anak-anak dan di mana Anda akan tinggal, maka jelas terlalu dini untuk memutuskan menikah.

Kita memang tak bisa menuntut hidup yang sempurna, masalah pasti selalu ada. Namun, kita punya kesempatan untuk menghadapinya dengan orang yang tepat sehingga segala beban bisa lebih ringan. Itukah yang Anda rasakan saat bersamanya? Atau ia malah menambah masalah?